Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

04 September 2014

BILA KAU CINTA KEPADANYA, BERANIKAH KAU MENGORBANKAN DUNIA?

Cinta kepada sesuatu itu menuntut pengorbanan. Apalagi cinta yang suci kepada sang ilahi, sudah pasti pengorbanannya adalah pengorbanan tingkat tinggi yang tak terbeli.
Kisah pengorbanan Ibrahim dan sang putra, Ismail, adalah kisah yang sudah pasti rutin kau terima. Tapi, di luar kisah itu, masih banyak contoh-contoh cinta dan pengorbanan lain yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan Hadits Rasulullah.
Demi dakwah kepada Allah, serta tetap mengabdi kepadaNya, seorang pemuda rela mengorbankan hidupnya. Rakyat yang kemudian mendapat hidayah juga rela menukar nyawa demi mendapat cinta dari Sang Penguasa Alam Semesta.
Bahkan orang yang tak dikenal dalam sejarah, tak diketahui asal usulnya, merasa terpanggil untuk membuktikan cintanya kepada Allah. Menghadapi masyarakat yang enggan ber-ilah kepada Allah, ia mengikrarkan tauhidnya. Ia pun mendapatkan surga dan cinta Allah yang melebihi dunia dan seisinya.
Di masa hidup Rasulullah, Al Qur’an juga mencatat aktivitas cinta dan pengorbanan yang tidak terpisahkan. Mereka rela mengorbankan sesuatu yang dicintai di dunia demi janji akhirat yang pasti terbukti kebenarannya.
Abu Bakar Ash-Shiddiq, teman setia Rasulullah juga telah membuktikan besarnya cinta dengan memberikan seluruh harta benda yang ia miliki untuk dakwah. Dan apa yang ia tinggalkan untuk keluarga? “Cukup Allah dan RasulNya.” Jawabnya.
Tapi Al Qur’an tidak hanya mencatat cinta dan pengorbanan yang gemilang, ia juga memberikan permisalan kondisi jiwa yang cinta kepada dunia mengalahkan cinta kepada Penggenggam seluruh jiwa manusia.
Ada yang kemudian menemui ajal saat ia berperang melawan tentara muslim. Ia dicatat sebagai orang yang ingkar (na’udzubillah min dzalik) hanya karena ia tidak sanggup memenuhi panggilan pengorbanan untuk berhijrah. Terbukti bahwa memang cintanya kepada Allah tak sebesar cintanya kepada dunia.
Cinta kepada dunia ini bisa menjebak siapapun. Bahkan orang-orang yang telah menjadi sahabat utama Rasulullah juga pernah mengalaminya. Namun ia bersegera mengakui kesalahannya, bertaubat kepada Allah, menerima hukuman sambil berharap Allah akan menerima penyesalannya.
Sesungguhnya anugerah Allah kepada umat Muhammad saw adalah nikmat besar yang tak terkira. Bandingkan dengan kondisi umat-umat yang sebelumnya. Sangat jauh bandingannya.
Tapi Allah memerintahkan untuk sholat dan qurban atas nikmat yang telah Ia berikan bukan berarti Allah membutuhkan. Sebaliknya, manusia yang membutuhkan melaksanakan semua perintah sebagai bukti cintaNya kelak di Hari Perhitungan.
Manusia memang mudah mengucapkan cinta. Tapi sesungguhnya cinta itu terlihat dengan pengorbanan. Bila kau tidak berkorban, maka pantaskah kau mengatakan bahwa kau tulus mencintaiNya? Wallahu a’lam.

http://zakatcentersby.wordpress.com/2013/10/14/bila-kau-cinta-kepadanya-beranikah-kau-mengorbankan-dunia/
Read More

Cinta Bersujud di Mihrab Taat | Salim A. Fillah

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya. Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia. Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya. Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak. Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib, ”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi. Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad. Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam. Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. ”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya. Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib. Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama. ”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?” Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar. ”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya. ”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”,  nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat. ”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?”, isterinya berseru. ”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran..”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun. ”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.” Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini;

Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah, ”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Doa yang indah.

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya. Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas. Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib. Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka. Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala. Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi. Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya. Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu. Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga. ”Ya Allah”, lirih Sang Nabi, ”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak! Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak. Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita. Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat. Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaatiNya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Maka Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya. Maka kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama. Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya. Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya. Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya. Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran, “Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak Ya Rasulallah!”, serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!” Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya. “Tetapi aku kehilangan Julaibib”, kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. Beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi. Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia. Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib. Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit. “Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

sepenuh cinta,

Salim A. Fillah
Read More

12 September 2013

Menyembelih itu = Menyakiti Hewan?

Menghadapi Idul Adha 1434 H yang identik dengan qurban, aku sengaja mencari beberapa panduan untuk penyembelihan. Aku pun searching beberapa artikel dan video untuk mencari tahu bagaimanakah cara penyembelihan hewan yang baik dan benar.

Ketika mendapati beberapa video penyembelihan di youtube aku kecewa. Bukan karena kualitas video dan caranya yang salah. Tapi karena komentar yang muncul sangat kasar. Seolah-olah penyembelihan hewan itu menyakiti hewan.

Memang harus kuakui, beberapa tayangan penyembelihan hewan yang tidak sesuai syariat memang mengerikan, tapi pertanyaannya, apakah penyembelihan hewan secara syar’i itu menyakiti hewan?
Pemberi komentar rata-rata kulihat dari negara barat. Metode yang mereka gunakan untuk menyembelih adalah dengan menyetrum kepala hewan untuk membuat mereka tidak sadar. Setelah itu barulah mereka mengalirkan darah hewan dari leher.

Hampir tidak ada perlawanan, atau “kejet-kejet” dalam bahasa Jawa. Dan memang perlawanan dan aksi “kejet-kejet” itulah yang membuat banyak orang mengasumsikan bahwa penyembelihan itu pasti menyakitkan.

Nyatanya perbedaan pendapat antara menyakitkan dan tidak menyakitkan ini telah terjadi lama di Jerman. Praktik penyembelihan tradisional yang dilakukan komunitas Islam dan Yahudi dipandang oleh orang Jerman kebanyakan sebagai tindakan yang tidak manusiawi.

Maka beberapa penelitian berkaitan dengan hal ini pun dilakukan oleh para peneliti di Jerman. Salah satu yang terkenal adalah penelitian yang dilakukan oleh W. Schulze, H. Schultze-Petzold, A.S. Hazem, dan R. Gross.

Penelitian ini ingin membuktikan apakah penyembelihan ritual sebagaimana yang dilakukan oleh komunitas muslim memberikan rasa sakit melebihi dari metode penyetruman (bolt stunning).
Hasilnya ternyata penyembelihan syar’i yang dilakukan oleh komunitas muslim tidak memberikan rasa sakit pada hewan yang disembelih. Hal ini terlihat dari rekam EEG yang digunakan pada penelitian.
Bahkan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi zero line EEG, yakni kondisi hilangnya aktivitas cerebral cortex atau dalam bahasa mudahnya hilangnya kesedaran, lebih singkat pada penyembelihan syar’i daripada menggunakan bolt stunning.

Subhaanallah, Maha Suci Allah. Sesungguhnya Allah telah menciptakan tatacara kehidupan bagi manusia dengan sempurna. Wallahu a’lam.

*http://zakatcentersby.wordpress.com/2013/09/12/menyembelih-itu-menyakiti-hewan-khan/
Read More

31 July 2013

Renungan Akhir Ramadhan

Sahabatku, Ramadhan kini mulai berjalan meninggalkan kita semua. Akhirnya hanya tinggal menunggu hari. Sebagian manusia ada yang merasa senang namun ada sedikit yang merasa sedih.
Mereka yang merasa senang bisa jadi karena waktu untuk libur panjang akan segera tiba. Berkunjung dan berkumpul bersama sanak famili menjadi impian yang kini menjadi kenyataan.
Tapi ada juga yang merasa senang karena beban untuk berpuasa ini akan segera usai. Ibadah shalat tarawaih yang panjang akan segera usai. Berlapar dan dahaga tidak akan terjadi lagi. Sebentar lagi akan terbebas dari penjara. Na’udzubillah.

Marilah berlindung dan memohon ampun kepada Allah bila dalam hati kita terbersit perasaan yang kedua. Karena sesungguhnya perasaan itu adalah salah satu tanda dari orang-orang munafik.
Ya, Allah sesungguhnya RasulMu telah menyampaikan bahwa dunia ini memang hijau dan indah. Maka berikanlah petunjukMu kepada kami sehingga tidak mudah tergoda dengan hijau dan indahnya dunia ini.
Ya Allah sesungguhnya Engkau telah berfirman bahwa dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau belaka. Maka berikanlah kami pertolonganMu agar tidak larut dalam permainan dan senda gurau.
Ya Allah sesungguhnya Engkaulah pemilik hati-hati kami, Engkaulah pemilik alam semesta ini. Maka berikanlah kami ilmu agar kami selalu melihat tanda-tanda kekuasaanMu, agar kami tetap tunduk dan patuh dibawah kekuasaanMu.

Ya Allah sesungguhnya Ramadhan ini telah Engkau istimewakan kapada ummat Muhammad SAW. Maka berikanlah kami waktu untuk berjumpa kembali dengannya. Berikanlah kami hidayahMu agar tetap dalam iman kepadaMu.

Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sedih saat ditinggalkan Ramadhan. Jadikanlah kami orang yang berbahagia saat berjumpa dengannya dan jadikanlah kami orang yang berbahagia saat berjumpa denganMu.
Wallahu a’lam

*http://zakatcentersby.wordpress.com/2013/07/31/renungan-akhir-ramadhan/
Read More

19 July 2013

Mumpung Ramadhan Ayo Banyak Berdoa Kebaikan

Di ayat-ayat panduan puasa yakni antara Al-Baqarah 183 sampai 187. Ada sebuah ayat yang terselip tentang doa. Ayat ini adalah ayat yang 186 yang artinya sebagai berikut, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyampaikan bahwa hal ini menunjukkan betapa penting dan utamanya doa dalam kondisi ibadah puasa di bulan Ramadhan. Bahkan beberapa sabda Rasulullah menunjukkan anjuran tersebut.

Di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, “bagi orang puasa di saat berbukanya ada doa yang dikabulkan.” Salah seorang sahabat, Abdullah bin Amr, senantiasa berdoa untuk keluarga dan anaknya saat berbuka.

Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Turmuzi, Nasai, dan Ibnu Majjah juga disebutkan, “Ada tiga macam orang yang doanya tidak ditolak, yaitu imam yang adil, orang puasa hingga berbuka, dan doa orang yang teraniaya diangkat oleh Allah sampai di bawah ghamam (awan) di hari kiamat nanti, dan dibukakan baginya semua pintu langit, dan Allah berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, aku benar-benarn akan menolongmu, sekalipun sesudahnya.”
Sesungguhnya, doa-doamu akan tak akan tertolak sahabatku. Asalkan kau berdoa kebaikan dan tak memutus silaturahim diiringi dengan rasa harap bahwa Allah akan mengabulkan, insya Allah dimudahkan. Wallahu a’lam
*http://zakatcentersby.wordpress.com/2013/07/17/mumpung-ramadhan-ayo-banyak-berdoa-kebaikan/
Read More

Sekedar Pengingat di Sepuluh Hari Kedua Ramadhan

Sahabatku yang dirahmati Allah tidak terasa, kita sudah memasuki Ramadhan di sepuluh hari yang kedua. Aku berdoa semoga Allah tetap memberikan aku dan kau kekuatan iman, dan kesehatan sehingga tetap bisa beribadah dengan nilai yang terbaik.

Allah dalam surat Al Kahfi ayat yang ke 58 dan 59 mengingatkan. Dan Tuhanmulah yang Maha Pengampun, lagi mempunyai rahmat. Jika Dia mengazab mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan azab bagi mereka. Tetapi bagi mereka ada waktu yang tertentu (untuk mendapat azab) yang mereka sekali-kali tidak akan menemukan tempat berlindung dari padanya.
Dan (penduduk) negeri telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.

Sahabatku, semua bencana yang ditimpakan kepada manusia siapa yang sanggup menghindarkannya. Mulai dari gempa, kebakaran hutan, hingga banjir semua bencana-bencana ini menunjukkan bahwa manusia itu kecil.

Dan apabila Allah ingin menghukum manusia atas kejahatan dan maksiat yang dilakukan, maka tidak terbayangkan musibah apa yang mungkin terjadi pada manusia. Namun Allah menyatakan bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha Pengampun.

Kejadian-kejadian di zaman Nabi dan Rasul sebelum Muhammad saw. menunjukkan hal tersebut. Kaum ‘Ad, Tsamud, Kaum Nabi Luth, semua mereka yang durhaka dihancurkan Allah hingga tak satupun yang selamat.

Sahabatku, ingatlah bahwa aku dan kau sebagai manusia ini adalah sesuatu yang kecil. Sehebat apapun manusia tidak ada teknologi yang sanggup menghindarkan diri mereka dari bencana bila telah ditakdirkan Allah.

Ramadhan kini menginjak 20 hari yang terakhir. Sudahkah kau beristighfar kepadaNya? Sudahkah kau memohon ampunanNya? Sudahkah kau meminta kebaikan di dunia dan akhirat kepadaNya? Bersegeralah Sahabatku! Karena sesungguhnya hanya Dia Yang Maha Pengampun. Wallahu a’lam

*http://zakatcentersby.wordpress.com/2013/07/19/sekedar-pengingat-di-sepuluh-hari-kedua-ramadhan/
Read More

10 June 2013

Ramadhan, Al-Quran dan Hidayah

Sebagaimana panggilan puasa disampaikan kepada orang orang yang beriman, maka demikian juga petunjuk yang disampaikan melalui Al-Qur'an. Yang bisa mengambil Al Quran sebagai petunjuk hanyalah mereka yang memiliki iman.


Katakanlah: "Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh ( QS Fushsilat :44). 
 
Rosulullah sendiri, menyampaikan bahwa Al Quran itu sepeti cahaya yang dengan cahaya itu, seseorang bisa menerangi kegelapan, menghilangkan cahaya yang tersamarkan. semua menjadi jelas dan tegas. 

Dan bila seseorang itu telah melihat kebenaran, itu juga termasuk dari kekuasaan Allah untuk memberikan hidayah kepada yang Ia kehendaki.

Kuingatkan kau bahwa di dunia ini banyak orang hafal, mengerti artinya, bahkan tau seluk beluk luar dalam Al Quran. Namun karena Allah tidak menghendaki iman dalam dirinya, ia tidak tergerak untuk mengimaninya. 

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. ( QS Al Qashash : 56)

  Dan hidayah itu diawali dengan kesungguhan murni yang muncul untuk belajar dan mencari kebenaran. Dan puasa di Bulan Ramadhan menjadi sebuah laboratorium sekaligus lahan praktek hidayah itu.

Di Bulan Ramadhan, dukungan dari sesama muslim untuk berhenti dari maksiat dan melaksanakan kebaikan sangat besar. Kesempatan untuk meraih hidayah di bulan Ramadhan itu sangat besar. 

Maka janganlah kau melewatkannya. Bacalah, hafalkanlah, belajarlah tafsirnya lalu kemudian laksanakan kandungan petunjuk yang kau dapatkan di dalamnya. Dan jangan khawatir, kau tidak sendiri. Banyak saudaramu muslim yang akan mendukungmu. Mereka akan melakukan kebaikan bersamamu.

Ramadhan telah dimuliakan Allah dengan diturunkannya Al Quran di dalamnya. Dan sebenarnya tidak hanya Al Quran, kitab-kitab Nabi terdahulu seperti Taurot, Zabur, dan Injil juga diturunkan dalam bulan Ramadhan. 

Rasulullah bersabda, Lembaran lembaran Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadhan, dan kitab Taurat dirunkan pada tanggal enam ramadhan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas ramadhan, sedangkan Al Quran diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan. ( HR. Ahmad )

Ramadhan sebuah bulan mulia akan hadir kembali, berdoalah agar Allah memberikan kesempatan sekali lagi bagi kita untuk meraih derajat Taqwa dan bertambahnya petunjuk dari Allah SWT. 
Wallahu a'lam.    

* Majalah Giving PKPU, Edisi Sya'ban 1434 H
 

Read More